Rabu, 06 Oktober 2010

AKU KINI HANYA SEBATANG KARA



Dinginnya udara disertai desingan angin gunung sapaan akrab kala kita akan berkunjung ke desa Gapong. Desa yang porakporanda akibat bencana tanah longsor tahun 2007. Suguhan kopi hangat khas daerah Manggarai sangat terasa. Begitulah kira-kira ucapan selamat datang saat kunjungan  FIRDAUS  PRB ke desa tersebut.
Siprianus Mboeng nama laki-laki setengah baya itu. Sambil duduk di kursi kayu lai-laki itu berkisah. Hari itu tanggal 2 Maret hujan deras mengguyur tanah Manggrai termasuk desa mungil bernama Gapong. Hujan yang berdurasi kurang lebih 2 jam ternyata membawa malapetaka. Desa Gapong diterjang bencana tanah longsor. Tidak terbayang memang oleh warga desa tersebut. Desa yang terdiri dari perbukitan dengan kondisi tanah yang labil membawa duka warga desa termasuk laki-laki setengah baya Siprianus Mboeng. Apa mau dikata bencana telah datang. Tidak terbayang memang dalam benaknya, ternyata bapak, ibu serta adik nya harus pergi untuk selamanya bersama 26 orang warga desa. Tiga orang dinyatakan hilang sampai saat ini. Saat terjadibencana mereka ada di dalam rumah tempat kami tinggal. Menurut pengakuan warga tiba-tiba saja ada bunyi gemuruh disertai gempa kecil.

Sambil meneguk kopi hangat, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mau menangis saya pun bingung. Karena di depan mataku ada tiga orang mayat yang saya sayangi selama ini, terbujur kaku. Aku hanya menangis dalam hati. Tuha apakah ini cobaan yang pantas bagi aku hambamu? Disaat bersamaan tangis serta rasa haru menyelimuti warga desa Gapong. Empat rumah rusak berat serta jalan raya jurusan Ruteng-Reo putus total. Bantuan yang datang pun terlambat. Pada malam harinya kami pun hanya mengkonsumsi makanan seadanya. Setelah kejadian desa kami terasa gelap gulita. Tidak ada lampu yang menerangi desa kami. Untuk mengevakuasi mayat pun hanya mengunakan peralatan seadanya. Linggis, pacul serta tofa menjadi andalan masyarakat untuk membantu mencari mayat yang hilang. Besok hari Sabtu tanggal 3 Maret semua mayat ditemukan kecuali tiga orang. Dan dikubur secara massal karena kondisi tanah berlumpur sehingga tidak dikubur satu persatu.

Kurang lebih dua tahun sudah bencana berlalu, namun kesedihan serta ingatan terhadap kejadian tersebut masih membekas dalam memori kami. Tugu peringatan tragedi tersebut berdiri tegak dengan tulisan serta nama-nama korban tanah longsor. Sesekali aku berkunjung ke makam keluarga. Kubur dengan bertatakan keramik biru berbaris rapi di kebun milik kami seakan menjadi penjaga tanah warisan leluhur nenek moyang ku. Setiap hari aku hanya memandang dinding rumah kami yang trebuat dari bambu, mungkin  kah mereka akan bersama ku lagi? Kini aku hanya seorang diri. Dalam hati andaikan mereka ada bersama saya saat in mungkin dalam keluarga ada canda, tawa serta tangisan kecil adik ku. Yang paling saya rasakan ketika malam tiba biasanya kami duduk berkumpul bersama, makan bersama di dalam rumah, termasuk bercerita tentang ke mana saya harus sekolah nanti setelah tamat. Tapi sekarang hanya tinggal kenangan karena mereka semua telah pergi untuk selama-lamanya dengan cara yang sangat mengenaskan. Dan saya percaya mungkin itu rencana Tuhan yang paling indah.
Bencana memang datang tanpa mengenal siapa kita, asal usul kita, dan darimana kita. Hanya ada satu hal yang dapat kita ambil hikmahnya, berbuatlah baik terhadap lingkungan disekitar kita. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar